Sejarah Kampung Wisata Taman Sari Yogyakarta

Taman sari merupakan bagian dari Kraton Yogyakarta berdasarkan Perjanjian Giyanti, yakni perjanjian pembagian wilayah antara Surakarta dan Yogyakarta. Dahulu nya taman sari merupakan sebuah Pesanggrahan, yang bernama Pesanggrahan Garjitawati yang didirikan oleh Paku Buwono II. Pesanggrahan digunakan untuk tempat singgah bagi jenazah Sultan Surakarta dan Kartasura sebelum dimakamkan di Imogiri. Taman sari dibangun pada era pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I, dengan penbiayaan penuh dari Tumenggung Prawirosentiko yang merupakan Bupati dari Madiun, yang mengakibatkan Madiun dibebaskan dari pajak. Panembahan Senopati bercita-cita untuk menaklukkan Tanah Jawa, dengan cara melakukan kerja sama dan hubungan timbal balik dengan para bupati, termasuk para bupati bagian Tumur Jawa. Tetapi, para bupati Timur Jawa enggan tunduk pada Mataram dan membuat sekutu sendiri untuk melawan Mataram, yang dipimpin oleh bupati dari Purbaya. Dengan taktik yang sedemikian rupa, bupati Purbaya dapat ditaklukkan oleh Penambahan Senopati. Sebagai kenangan nama daerah Purbaya diubah menjadi Mbedi Ayun. Dalam bahasa Jawa, Mbedi berarti Mbeji atau Beji yang aritinya sendang, sedangkan Ayun diartikan depan dan perang. Jadi, Mbedi Ayun artinya perang disekitar sendang, kini pengucapannya berubah menjadi Madiun. Alasan dibangunnya taman sari adalah sebagai tempat meditasi dan peristirahatan Raja atau Sultan yang berkuasa, beserta keluarganya dari hiruk pikuk masalah Kraton. Alasan lainnya adalah sebagai benteng pertahanan.

Taman sari memiliki 4 bagian. Bagian pertama dahulunya terkenal dengan nama Segaran karena terdapat danau buatan dan merupakan tempat yang sangat eksotis. Sekarang bagian ini telah berubah menjadi pemukiman yang bernama Kampung Taman.

Bagian kedua dari Taman Sari terdiri dari beberapa gedung yakni Gedhong Gapura Hageng, Gedhong Lopak-Lopak, Gedhong Sekawan, Gedhong Gapuro Panggung, Gedhong Temanten, dan Umbul Pasiraman. Apabila terdapat mitos bahwa zaman dahulunya Sultan akan melihat perempuan-perempuan yang sedang mandi, kemudian melemparkan bunga, dan akan mengajak mandi perempuan yang menjadi pilihannya. Hal tersebut hanyalah cerita bohong yang sengaja disebarluaskan untuk memperburuk citra seorang Sultan.

Bagian Ketiga dari Taman Sari adalah bagian  yang hampir hilang. Bagian ini dioercaya sebagai tempat Pesarean Dalem Ledok Sari, tempat tersebut berbentuk seperti huruf U yang pada bagian tengahnya terdapat tempat tidur Sultan yabv dibawahnya terdapat aliran air. Tempat ini dipercaya sebagai tempat meditasi Sultan.

Bagian keempat dari Taman Sari sudah tidak tersisa lagi, kecuali bekas jembatan gantung dan dermaga. Salah satu jembatan tersebut berada disekitar jalan yang menghubungkan kompleks Magangan dengan Kamandhungan Kidul.
Lorong-lorong yang terdapat di Taman Sari. Lorong tersebut merupakan lorong bawah tanah yang digunakan untuk menghubungkan antara Kraton, Taman Sari, dan pojok benteng. Tujuan dibuat lorong tersebut yaitu apabila sewaktu-waktu Belanda melakukan serangan, Sultan beserta keluarga akan segera memasuki lorong dan menuju Taman Sari untuk mencapai tempat yang lebih aman. Para prajurit melalui lorong tersebut sebagai akses keluar masuk untuk memperkuat pertahanan dibagian Kraton dan pojok benteng.

Sumber : https://youtu.be/wsHEnf3WiLQ

Komentar